Metode Farmakologi 5
Jahe
merupakan salah satu tanaman rempah di Indonesia yang cukup popular
dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Jahe memiliki rasa pedas yang khas,
sehingga cukup sering dimanfaatkan menjadi minuman untuk menghangatkan badan.
Dalam
beberapa dekade terakhir, jahe-jahean dipelajari secara ektensif dalam
pengobatan dengan teknik ilmiah dan diketahui mengandung berbagai senyawa
bioaktif seperti tanin, flavonoid, glikosida, saponin, alkaloid, dan masih banyak lagi. Senyawa-senyawa
dalam jahe dilaporkan memiliki khasiat sebagai antibakteri, antioksidan,
antiinflamasi, analgesic, diuretic, antijamur, antikanker, dan antivirus.
link video: https://youtu.be/BGQBvxxOg_Y
Jadi video tadi dijelaskan bahwasannya jahe bisa digunakan untuk obat dalam menjadikan jahe sebagai obat untuk covid 19 tentu ada beberapa skrining yang harus dilakukan terhadap senyawa flavonoid, nah salah satunya ada prediksi farmakokinetik yang diprediksi pada 80 flavonoid senyawa yang diuji , terdapat 15 senyawa yang diprediksi memiliki daya serap yang baik.
ReplyDeleteLalu apakah pada senyawa flavonoid dari tanaman jahe ini dia itu termasuk ke dalam farmakokinetik yang baik dan bagaimana metode dalam pengecekan tersebut
Flavonoid merupakan zat fenolik yang diisolasi dari berbagai tumbuhan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa flavonoid menunjukkan aktivitas biologis, termasuk tindakan anti alergi, antivirus, antiinflamasi, antioksidan dan vasodilatasi. Dapat dilihat dari banyaknya manfaat senyawa flavonoid ini, maka senyawa flavonoid dari tanaman jahe ini dapat dikatakan termasuk kedalam farmakokinetik yang baik. Metode pengecekan kandungan senyawa flavonoid pada tumbuhan jahe ini pertama dilakukan dengan ekstraksi flavonoid, dilanjutkan dengan fraksinasi ekstrak dengan metode Kromatografi cair vakum (KCV), kemudian Identifikasi isolat yang dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis, dan terakhir Uji Aktivitas Antioksidannya dimana Antioksidan alami dari tanaman obat adalah pilihan yang baik untuk mengendalikan stres oksidatif dan karena berasal dari alam, senyawa ini biasanya tidak beracun.
DeleteSenyawa flavonoid pada jahe merah ini dia menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat Lalu bagaimana dengan suatu tanaman katakan saja tanaman lain namun dia itu memiliki senyawa flavonoid tetapi antioksidannya itu tidak terlalu kuat,apakah bisa dilakukan skrining flavonoid untuk obat covid-19 atau ada batas standar antioksidan dari flavonoid yang dapat digunakan sebagai obat covid 19
ReplyDeleteSenyawa flavonoid memiliki begitu banyak manfaat untuk kesehatan, hal ini dikarenakan senyawa ini dapat berfungsi sebagai antikanker, antiinflamasi, antioksidan, antimalaria, antimikroba, anti-HIV, antihipertensi dan antistroke, sehingga senyawa ini dikembangkan dan diaplikasikan dalam berbagai bidang kesehatan, kosmetik, suplemen dan obat-obatan karena kemampuannya dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Skrining flavonoid sendiri dilakukan untuk melihat keberadaan senyawa flavonoid yang terkandung dalam sebuah ekstrak uji serta melihat potensi manfaat dari senyawa tersebut. Sesuai dengan pernyataan sebelumnya, maka skrining flavonoid tetap bisa dilakukan pada tanaman yang memiliki senyawa flavonoid tidak terlalu kuat, namun yang menjadi cacatan adalah ketersediaan hayati flavonoid sangat melimpah namun cara untuk memperoleh senyawa tersebut dari bahan dasarnya perlu ditingkatkan dan dikembangkan, karena dalam proses isolasi senyawa tersebut yang menjadi sangat penting adalah senyawa tidak mengalami kerusakan atau kontaminasi sehingga tidak mengurangi khasiat senyawa tersebut namun dipertahankan atau ditingkatkan.
Deletepenjelasan mengenai jahe dapat dijadikan alternatif untuk covid 19,karena jahe memiliki senyawa flavonoid. Akan tetapi beragam jenis jahe yang ada,lalu apakah terdapat perbedaan khasiat untuk covid-19,dan apakah skirining virtual dalam menentukan potensial obat terhadap jahe ini berbeda setiapnya
ReplyDeleteJahe merupakan salah satu tanaman rempah di Indonesia yang cukup populer dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Banyaknya kandungan senyawa bioaktif baik yang ada pada tumbuhan jahe tersebutlah yang menjadi alasan jahe banyak diteliti untuk mengetahui berbagai manfaat dari senyawa-senyawa tersebut. Dewasa ini, selain jahe putih yang umumnya dikonsumsi masyarakat, ternyata terdapat jenis jahe lain yang memiliki khasiat lebih banyak dan rasa pedas yang lebih kuat, yakni jahe merah. Untuk proses skrining virtual dalam melihat potensial obat covid-19 ini relatif sama, dilakukan studi komputasional (molecular docking) dimana dilaporkan bahwa senyawa-senyawa dalam jahe merah memiliki kemampuan untuk menghambat infeksi dari virus termasuk virus SARS-CoV-2. Ar-curcumene, gingerol, geraniol, shagaol, zingiberene, gingerenone, zingiberenol merupakan komponen biokatif dalam jahe merah yang dapat dijadikan ligan yang akan mengintervensi ikatan antara S protein pada virus dengan ACE2 reseptor pada sel manusia.
DeleteBerarti dapat disimpulkan bahwa flavonoid dari tanaman jahe ini dapat dikatakan termasuk kedalam farmakokinetik yang baik. Metode pengecekan kandungan senyawa flavonoid pada tumbuhan jahe ini pertama dilakukan dengan ekstraksi flavonoid, dilanjutkan dengan fraksinasi ekstrak dengan metode Kromatografi cair vakum (KCV),lalu skrining flavonoid tetap bisa dilakukan pada tanaman yang memiliki senyawa flavonoid tidak terlalu kuat, namun yang menjadi cacatan adalah ketersediaan hayati flavonoid sangat melimpah namun cara untuk memperoleh senyawa tersebut dari bahan dasarnya perlu ditingkatkan dan dikembangkan,Untuk proses skrining virtual dalam melihat potensial obat covid-19 ini relatif sama, dilakukan studi komputasional (molecular docking) dimana dilaporkan bahwa senyawa-senyawa dalam jahe merah memiliki kemampuan untuk menghambat infeksi dari virus termasuk virus SARS-CoV-2.
ReplyDelete